Jakarta Seusai Matahari Terbenam
Membuka dua pertiga halamannya, juga di Jakarta, setelah matahari tenggelam. Tentu kutelusuri tanah para penjajah tumbuh, kecuali Kanal Molenvliet yang tak kujamah. Selain karena sudah berganti nama, aku tak berjalan dengan Abel—pun aku bukan Emina. Banyak perhentian bus yang kusinggahi, menunggu sambil membuka lembaran selanjutnya. Seperti itu aku menunggumu, berapa lama pun, berapa kalipun aku melewati banyak perhentian, dan berapa banyak bekas tapak sepatuku sepanjang jalan Jakarta. Baik di Sudirman, juga sampai Tanah Abang. Hei, omong-omong, hiruk pikuk Jakarta mencumbuku dengan kasar. Panasnya mencekik sabarku, yang ikut habis mencair seperti es batu dalam gelas es kopiku yang kian hambar. Katamu aku butuh kipas, tapi tak melebihi butuhku atas pelukmu.