Tajuknya 'tukang bakso'
Kernyitan diwajahnya terbaca menjadi 'kenapa sih dia ini aneh?'—paling ngga, itu bagian yang paling saya inget lebih dari lima tahun silam. Juga, antrean panjang di abang bakso kantin sekolah saat itu yang sama panjangnya kayak surat putusan DPR.
2020 berapa tahun yang lalu sih? Udah lama banget ya? Eh tapi ngapain juga dipikirin? Terus kok ini tws tiba-tiba kedengeran jadi You'll Find Lovers Like You and Me—huft.
This after office hour kinda boring. Rutinitas itu-itu aja. Keluar kantor. Menyisir trotoar yang berubah jadi pasar ngga tetap—kalau pagi sampai sore warung mereka harus tutup, karena toko Engkong-Cici buka. Padat, ramai, dan berisik.
Mampir dulu deh, beli es teh sekalian mie ayam. Berbincang sembarang dengan siapapun itu ngga buruk, lagi pula mereka mau ngadu ke siapa kalau kamu sembrono jika bicara? Kalau ada pertanyaan kenapa ngga punya teman—belum, tapi ya ada sih, cuma mereka sibuk. Jadi sekarang saya ngobrol sama pedagang asongan yang kiranya kepala lima, basa basi biasa sih, mulai dari 'jualan dari lama pak?'
"Dulu ya, Neng. Bapak pernah deketin cewek cuantik waktu SMA, dia mau sama Bapak, tapi Bapak bilang, Bapak ngga punya masa depan," sekarang saya rasa saya jadi bestie karibnya. "Orang tua Bapak kerja serabutan, Bapak harus bantuin mereka cari uang buat makan besok, makanya SMA aja ngga lulus, dari situ Bapak bilang sama Rita (mungkin nama gebetannya? atau nama samaran?) semoga dia ketemu lelaki mapan, tampan."
Saya cuma bisa diem. Otak saya sih jelas berpikir. Laki-laki disebut pantas itu kalau dia punya apa aja sih? Si Bapak ngga lanjut cerita, wong ngelayanin orang-orang beli, jalanan makin rame, semua orang keluar dari tempat kerjanya masing-masing. Tiba-tiba, dia bilang lagi, "Sedih sih Neng kalo diinget. Sekarang Bapak ngga tau kabarnya," memilukan juga menyedihkan. Gimana perasaan isterinya kalau tau suaminya gamon?
Bakso saya udah abis. Udara Serang (yang kebetulan lagi dingin) menyeruak ke dalam tulang melalui pori-pori setelah kuah bakso ngga lagi ngangetin badan saya. Dingin yang nusuk tulang saya berbarengan dengan ingatan yang menguak ke deretan paling atas player otak saya.
Kaset kusut setahun sebelum 2020, hampir dua tahun sebelumnya pandemi melanda. Tentang orang yang mengerenyitkan dahinya waktu lihat saya baca buku sambil antre bakso di kantin. Kemudian beberapa waktu selanjutnya saya nguping kalau dia nanyain saya, dan hari terakhir saya (juga dia) antre bakso di kantin itu, satu kalimat terucap.
Satu kalimat yang saya kategorikan sebagai janji, tapi sampai saat ini, saya ngga tau lagi kabarnya gimana. Persis seperti Bapak tadi.
Satu pertanyaan, apakah pernyataan (kategori janji) akan abadi menjadi janji?
Komentar