Lotre bukan lonte
Satu hari aku menjadi perempuan pemenang lotre itu, semua menatapku, aku menjadi sorotan kian hari. 'Perempuan pemenang lotre' mereka memanggilku kala aku membuka pintu kayu yang seperti nenek-nenek tua itu. Aku merasa seperti telah menghabiskan Naga terkutuk berserta dengan penyihir jahat paling ditakuti di dunia.
Berjalan di atas karpet merah selama berhari-hari, rasanya seperti Selena Gomez. Hingga tengah malam, televisi mengumumkan perempuan pemenang lotre yang juga sama hoki. Kau tahu? Dalam sekejap, aku menjadi tahu goreng yang dibalik karena sisi lainnya sudah cukup matang.
Tidak ada lagi perhatian. Tidak lagi aku menyandang gelar 'perempuan pemenang lotre'. Tidak lagi aku berjalan di karpet merah, hanya ada tanah basah. Tidak lagi aku menjadi Shrek bagi Fiona, karena Rumplestilskin telah mengubah dengan sihirnya.
Maka, apakah seperti itu konsep kehidupan?
Apakah seperti itu konsep televisi?
Dan, apakah seperti itu konsep Tuhan dalam mengatur hambanya?
Komentar