Hampir Lima Jam

Kotak hijau bludru itu kini tepat didepannya, ia diam—menatapku. Aku juga diam, Tuhan tahu seperti apa ramainya khayalanku hari itu. Bibir yang ingin kusentuh saat itu juga terkatup rapat, namun mata indah cokelat terang itu berkata, "Beri aku waktu, dan jadilah tunanganku."

"Aku udah jelasin, kan? Niatku kedepannya gimana?" Lontaran yang tidak romantis sedikitpun itu yang ternyata keluar dari bibir tipisnya. Sial. Tidak seperti yang kuharapkan.

Malam-malam sebelum hari di mana kami duduk berdua di cafe selama hampir lima jam lamanya, hariku dipenuhi rasa gelisah. Gundah gulana saat lelaki manis itu menyatakan kesediaannya. Sebagai perempuan aku hanya bisa mencari pakaian yang terbaik, menimpa kukuku dengan kuku hias yang cantik, dan parfum terbaik.

Setiap hariku dipenuhi bunga, kupu-kupu, gambaran indah masa depan, serta semua hal yang menyenangkan. Selama satu bulan lamanya, aku tak pernah lagi marah, bahkan merasakan hal burukpun tidak. Semua kurasa baik-baik saja.

Pagi hari di hari hampir lima jam kami duduk mengobrol itu, ada yang membuatku sedikitnya merasa sedih. Aku tidak bisa menggunakan pakaian yang kusiapkan—atasan berwarna putih dengan sentuhan motif bunga, rok berwarna coffe. Sementara kukuku sudah terhias cantik seperti perempuan yang akan dilamar oleh kekasih hatinya.

Hampir lima jam kami duduk mengobrol setelah ia keluar dari pulau jarak, ternyata tidak membuatku tersadar bahwa saat itu aku tidak menggunakan pakaian tunanganku. Pakaian itu berganti menjadi kaos hitam pendek, celana jeans, dan sandal. 

Tidak ada pertanyaan bersediakah aku menjadi tunangannya. Tidak ada kata-kata romantis seperti yang kubaca di novel-novel kesukaanku. Tidak ada surat. Fakta bahwa kotak cincin itupun aku yang membawanya menjadi tanda bahwa tidak semua pasangan memiliki kisah yang sama.

Tapi di hari hampir lima jam kami duduk mengobrol itu mata cokelat indahnya selalu bersinar, bibir tipis itu selalu tersenyum sepanjang kami bersama. "Aku ngga bisa ngomong, padahal semalem udah siapin mau ngomong apa sama kamu," terdengar seperti sebuah konferensi pers dari kepala divisi kriminal kepolisian.

"Aku udah siap. Keputusannya ada di kamu," aku tidak ingat di menit keberapa pada akhirnya ia menautkan cincin di jari manis kiriku. Aku juga tidak ingat kapan aku bisa menurunkan amarahku karena tidak memakai pakaian pertunanganku. Juga, aku tidak sadar bahwa kami hampir lima jam duduk mengobrol, melepas beban berbulan-bulan lamanya.

Komentar

Postingan Populer