Kita Putus Aja Ya

Nirvana, perempuan yang hanya ingin melepaskan sepi dihari-hari setelah menjadi manusia paling kesepian di dunia, mungkin. Menjadi anak satu-satunya tak seindah yang orang bilang, harus siap dilanda kesepian dua puluh empat jam. Maka, Nirvana memutuskan untuk mencari kekasih untuk menghabiskan waktu bersama disela kosongnya kegiatan kuliah.

Menulis, mengobrol, mendengarkan lagu dengan headphone dengan suara penuh adalah Nirvana. Berbeda dengan Reihan, tak ada hobi, hanya bermain game dan pulang setelah kuliah. Awalnya, perbedaan latar belakang ini bukan masalah, namun seiring berjalannya waktu Nirvana sudah tak lagi mampu membagi waktu dan Reihan pun menjadi dhuafa cinta dan kasih sayang. Perdebatan demi perdebatan terus berulang, sudah seperti matahari terbit dari timur, selalu seperti itu dan hanya akan terbit dari barat ketika kiamat.

Kiamat adalah hari besar bagi umat manusia. Tapi, Nirvana juga punya hari besar yang hanya dirayakan oleh organisasinya saja. 

Kebiasaan baru Nirvana adalah betah di kampus lama-lama. Ngapain? Ngobrol. Walau disiang hari ia bisa pulang untuk istirahat, ia lebih memilih untuk berdiam di kampus, memesan minuman dingin dan beberapa potong gorengan, lalu Nirvana akan memulai percakapan dengan siapapun yang duduk di sampingnya. 

"Mbok, pesen es jeruk ya! Jangan manis-manis," Nirvana duduk di bangku Warung Si Mbok, langganannya kemudian memilih empat buah gorengan. Tiba-tiba pandangannya gelap, ditutupi tangan besar yang ia tahu pasti Reihan.

"Hai cantik. Sendirian aja, nih? Abang boleh duduk di sini?"
"Reiiii, malu diliatin orang," Nirvana tak suka tiap kali bersentuhan fisik secara intens di publik, bahkan ia sudah sering mengingatkan kekasihnya untuk tidak bersentuhan fisik di publik. 
"Iya iya, maaf ya cantik. Kamu abis ini kemana? Ada kelas lagi atau pulang?" 
"Nanti jam 4 sore aku ada rapat buat lomba nanti," ia menutup ponselnya, "Makasih mbok," es jeruk less sugarnya sudah datang.
"Oh, yaudah. Aku abis dari sini mau pulang, sih. Nanti malem aku ke rumah ya, aku bawa donat kesukaanmu," Reihan menepuk sayang kepala Nirvana, setelah itu pergi.

Selang beberapa menit kemudian, tukang sapu kampus duduk menggantikan Reihan. Percakapan panjang dimulai dengan pertanyaan singkat, "Udah berapa kantong sampah hari ini, Bang?" Hingga membahas isu-isu burung terbaru dikalangan mahasiswa. Percakapan itu terlalu seru, terlalu mengalihkan dunia Nirvana sampai ia lupa bahwa ia juga punya Reihan untuk dikabari. Niat hati ingin memastikan jam berapa sekarang, namun yang muncul dilayar adalah notifikasi panggilan tak terjawab dan puluhan pesan dari Reihan. "Astaga, gue lupa ngabarin Rei," sambil mengetik sebuah kabar yang mungkin Reihan tunggu. Lagi dan lagi, perdebatan melalui chatting yang berakhir dengan kalimat 'Maaf ya sayang. Nanti dikabarin lagi.' 

Sudah membayar, percakapan dengan tukang sapu juga sudah berujung, Nirvana pergi ke Lapangan, tempat yang menjadi alternatif mahasiswa ketika tidak mendapatkan ruangan resmi untuk berdiskusi. Namun ia lupa bahwa hari ini adalah hari fiksasi, yang mana lebih lama dari biasanya. Ia terbuai dengan perbedaan pendapat yang ada di forum, ia merasa forum seharusnya membahas tuntas untuk semua yang berbeda dan menemukan titik tengah sebagai solusi. Lagi, ia tak ingat dengan janji yang dibuat dengan Reihan sore tadi. Ponsel itu tak pernah mendapatkan perhatian Nirvana selain ketika mendengarkan musik, lagi pula, siapa yang harus dikabari selain Reihan? Toh, tidak ada yang peduli pula dengan kehidupannya, lagi dan lagi, kecuali Reihan.

Ia berniat untuk mengecek jam, ternyata ponselnya mati. Kehabisan baterai. Rapat selesai sekitar pukul setengah sembilan malam, setelah ia melihat jam diponsel rekannya. Sudah tidak ada lagi yang harus didiskusikan, maka Nirvana pulang.

Belum membuka gerbang, ia melihat Reihan duduk di atas motor sendiri dengan sebuah tas besar tergantung distang motornya. Nirvana mematikan mesin motornya, menghampiri Reihan yang ternyata nampak seperti tersengat lebah.

"Rei, kamu ngapain di depan rumahku?" 
"Na, aku boleh masuk sebentar? Ngobrol di terasmu ya?"

Mereka masuk ke dalam pagar rumah, memarkirkan motor dengan berdempetan supaya jika Ayah atau Ibu Nirvana pulang, tak menghalangi jalan menuju garasi. Nirvana membawakan segelas air dan kompres air hangat. Baru saja disimpan di meja, Reihan melempar sekotak donat cokelat kesukaan Nirvana.

"Lo dari mana aja, sih?! Seseru itu lo ngobrol sama tukang sapu sampe lupa ngabarin gue?! Sepenting apa sih rapat lo itu sampe lo lupain gue? Sesulit apa sih Na untuk lo ketik pesan lo lagi ngapain di kampus?" 
"Rei, kamu apa-apaan sih! Ngga enak kalo kedengeran tetangga!"
"Lo aja ngga peduli sama gue, ngapain gue peduli sama lo," nada Reihan semakin tinggi, namun ego Nirvana lebih tinggi dari tinggi badan Reihan.
"Hapeku mati, Rei. Aku ngga sadar kalo hapeku habis batre, maaf, maaf, maaf banget."
"Udah abis kali memori hape gue kalo dipake buat rekam kata maaf lo itu. Gue nungguin lo dari jam setengah tujuh tau ngga? Bangsat!"

Nirvana masuk ke dalam, mengambil ponsel di dalam tasnya kemudian melemparkan ke tepat ke dada Reihan. Nyeri yang dirasakan, pasti. "Tuh, lo liat sendiri kalo batre gue abis goblok!" Dua tahun bersama, tak ada satu kata kasar pun yang keluar dari mulut keduanya.

"Sakit anjing! Ada siapa sih diorganisasi lo itu sampe lo betah banget! Cowo lain, hah? Kating?! Dibayar berapa lo sama mereka? Cih."
"Lo pikir gue apa sialan? Dari awal gue masuk organisasi juga gue udah bilang, prioritas gue untuk beberapa waktu bukan lo! Kurang lama apa sih kita kenal? Sial."
"Gue kesepian, Na! Lo tuh selalu aja sibuk sama organisasi lo itu, berguna juga ngga!"

Kali ini, bukan lagi kotak donat cokelat yang berserak di lantai. Tapi serpihan kaca vas bunga yang Nirvana banting.

"Mau lo apa sekarang? Gue udah kasih apapun yang lo mau, ngga jarang juga gue backup apa yang lo butuh."
"Kabarin gue, Na. Kabarin. Prioritasin gue!"
"Lo bukan prioritas gue setiap saat bajingan. Lo pikir lo siapa? Orang tua gue? Suami gue?!"
"Yaudah kalo lo emang ngga bisa prioritasin gue dan lo lebih milih organisasi lo itu, putus!"
"Lo mau kita putus?"
"Iya. Putus."
"Oke. Silahkan lo angkat kaki dari rumah orang tua gue!"

Reihan berjalan cepat menuju motornya, menyalakan mesin, memainkan gas motor seolah itu ada emosi dan isi kepalanya. Pergi dengan langsung tancap gas dalam-dalam. Sementara, Nirvana memungut ponselnya yang retak dibagian ujung dan masuk ke dalam rumah tanpa peduli kondisi teras rumahnya yang mungkin sama berantakannya dengan hidupnya.

Komentar

Postingan Populer