Coffe and Cigarettes

Dua es kopi yang tersisa setengah cup ini warnanya mulai memudar, tanda bahwa rasanya akan semakin hambar. Terlalu ramai isi kepala keduanya, sampai tak lagi mampu tertahan. Percakapan keluh kesah selama berjam-jam itu kini akhirnya tumpah ruah, seperti Bendungan air dikala musim hujan, tumpah ke luar batasan yang seharusnya, debit air pula bertambah hingga tak jarang tembok penahannya rubuh.

"Rokoknya cuma diliatin gitu aja? Bentar lagi abis, tuh," tutur Si Lelaki.
"Iya, aku liat kok. Sengaja cuma dibakar," balas Si Perempuan dingin, mungkin lebih dingin dari es kopi yang mereka pesan.

Kopi dan rokok adalah mereka. Kurang puas rasanya kalau salah satu hilang, namun bagaimanapun, kopi dan rokok sumber penyakit yang nikmat. Tapi, bukankah semua yang menyakitkan terasa nikmat? 

Rokok yang dibakar tak lama kemudian mati. Es kopi milik Si Perempuan juga sudah pucat, tak lagi ada potongan es batu di dalamnya. Ia meminta Si Lelaki mencoba es kopi miliknya sambil memperhatikan batang rokok yang hanya berukuran 2 sentimeter itu.

"Apa yang kamu liat dan rasa?" Tanya Si Perempuan. 
"Hambar. Dingin. Mati."
"Salah. Itu aku."

Komentar

Postingan Populer