Perempuan Diujung Malam
Cerita ini merupakan 100% fiksi dan karangan asli. Apabila ada kesamaan nama tokoh, merupakan hal yang tidak disengaja ataupun bahasa daerah yang digunakan semata ingin mengenalkan bahasa di daerah penulis, bukan tujuan untuk menghina ataupun merendahkan siapapun.
Sudira, sebuah tempat yang terkenal akan kereligiusan masyarakatnya. Banyaknya tokoh agama berasal dari sana dan harum namanya dari Sabang hingga Merauke. Sekolah agama pun banyak berdiri kokoh di daerah ini, bahkan peraturan di masyarakat lebih ketat daripada baju yang dipakai oleh biduan Ibukota. Ada satu tokoh agama yang tinggal di Sudira, namun nama besarnya terkenal sampai ke pelosok negeri yang bahkan listrik pun tidak ada, bagaimana bisa? Tak perlu heran jika beliau hampir setiap bulan berpergian jauh nan dalam untuk menyebarkan ajaran Tuhan-Nya. Abah Ara’af, begitulah masyarakat Sudira memanggilnya. Kebaikan Abah Ara’af tak dapat disangkal, ia bahkan mampu memberdayakan para janda yang ada di Sudira.
“Bah, nuhun, nuhun. Wis mun Abah lake, kite gala ore bakal idup sekien,” Bah, makasih, makasih banyak. Kalau Abah tidak ada, saya juga tidak akan hidup sekarang), kata Iroh, seorang Ibu yang memiliki satu anak tanpa ayah. Dibelakang Iroh, mengekor satu anak perempuan, mungkin usia enam belas tahun, kulitnya gelap, namun tak lebih gelap dari malam dan juga bersih, walau tak sebersih ubin balai ibadah milik Abah Ara’af.
Iroh dan anaknya meninggalkan
antrian sembako yang masih memanjang seperti ular, pulang ke rumah, tak begitu
layak untuk ditinggali, sebab letaknya tepat di belakang pasar ikan, dan
berlangsungan dengan laut. Sesampainya di Rumah, Iroh membuka plastik besar
yang diberikan oleh Abah Ara’af, Berisikan bahan pokok untuk makan, bahkan ada
beberapa lembar uang yang mungkin cukup untuk berbelanja lauk selama seminggu.
Tak ada lelaki di rumah berbau ikan ini, hanya ada Iroh dan anak gadisnya, Juwita. Tak lagi sekolah, maka mereka bersama-sama untuk menghidupi rumah dan isinya. Malam hari, Juwita selalu ikut dengan nelayan yang kebetulan tetangga rumah, Mang Oman namanya dan pulang lagi dini hari. Setiap kali Juwita pulang ke rumah, Ibu nya selalu tertidur lelap, Lelah seperti habis bekerja keras, namun subuh setelah ibadah subuh, Iroh pergi ke Pasar untuk menjual ikan hasil tangkapan Juwita dan Mang Oman.
”Mak, bengi kite ore lunge, manjing angin,” (Bu, nanti malem saya tidak berangkat, masuk angin), ucap Juwita di posisi hendak tidur.
“Wis ore pape, kisuk meh kite jual kue-kue bae keliling, bantoni ye ning umah,” (Ya sudah, gapapa. Besok saya jualan kue aja keliling, tapi nanti kamu bantuin di Rumah ya), Iroh meninggalkan Rumah.
Juwita terbangun dari tidurnya yang
gelisah. Mimpa adalah hal yang ditakuti oleh Juwita, karena setiap terlelap,
alam bawah sadarnya selalu berlari ke momen dimana ia tengah berlayar mencari
ikan dan tenggelam, atau bahkan sesekali mencari kehangatan bersama dengan Oman
di tengah laut dan udara yang dingin menusuk tulang. Barang kali, Juwita tak
betulan sakit, mungkin ia hanya ingin menemani Ibunya di malam yang dingin dan
menghangatkan badan ditungku besar bersama. Terik matahari juga menjadi alasan
mengapa Juwita bangun dari tidurnya. Sudah siang rupanya, atau lebih tepatnya
sudah waktunya membereskan pekerjaan rumah.
Di tengah piring yang sedang digosok menggunakan abu gosok, pikiran Juwita terus melayang-layang, membayangkan bahwa kehidupannya akan berubah membaik jika ia menikah, tak lagi harus berlayar tengah malam untuk kemudian hasilnya dijual oleh Ibunya esok subuh. Ia menangis sedu, diatas cucian alat dapur, memikirkan kehidupannya yang sulit ini. Bukan tak bersyukur, namun bagaimana lagi? Teman sebayanya hanya pergi ke sekolah dan bermain, sementara Ibu dan Bapaknya yang bekerja. Ia merasa pilu atas dirinya sendiri, ia belum lagi memiliki anak, namun apa yang dilakukannya seolah ada nyawa lain yang harus dihidupi. Tak hanya itu, tangis itu semakin menjadi badai tak kala ia mengingat seberapa kotornya ia yang tak Ibunya tahu.
“Disangke, wadon enteng irup e. Emak kare Abah ngamuk jige uwong dimanjingi setan amun weruh kite mengkonon. Gusti, ampurane kite,” (Dikira, hidup jadi perempuan itu mudah. Ibu sama Kyai pasti marah besar kalau tahu saya orangnya begini. Ampuni hamba ya Tuhan), tangis berhenti bersamaan dengan selesainya cucian piring. Tak ada hal lain yang harus dikerjakan di rumah. Pikiran Juwita Kembali melayang menuju malam-malam dimana ia dan Oman saling memadu kasih, setelah dirasakan lebih jauh lagi, rasa tak bersalah mulai tumbuh, hari demi hari kian menjulang tinggi, hingga pada suatu malam, terbesit pikiran betapa kesepian Ibunya, karena semua perempuan, butuh sentuhan hangat dan kasih sayang yang bukan dari Juwita, anaknya.
Pukul tiga dini hari, tak ada lagi ikan yang bisa ditangkap. Sebab sudah satu jam Juwita dan Oman menunggu, tak ada lagi ikan yang bisa dijaring. Lagi pula, hasil nelayan malam ini sudah cukup walau lebih cepat selesai. Seperti malam-malam sebelumnya, sebelum pulang, mereka saling menghangatkan bagian dalam diri masing-masing. Namun, pohon rasa tak bersalah yang kemarin sudah tumbuh lebat, seperti dirubuhkan angin putting beliung.
“Kang, kite mengkenen keh salahi aturan. Isin kite kare Gusti Allah, kare Ibu kire, kare Abah sing ungal dine nyeramai kite-kite ning Bale,” (Kang, kita ini melanggar aturan. Malu sama Allah, sama Ibu, sama pak Kyai yang setiap hari ceramahin kita di Balai), ucap Juwita menjauhin Oman dan mulai memasang kembali satu persatu yang sudah tertanggal.
Satu,
dua menit, tidak ada respon atau ekspresi yang ditunjukan Oman. “Atuh sira
weruh kien keh salah, baru wewarah sekien, atuh lah terlanjur bae Juwita. Yawis
sire ore maning-maning lunge kare kite,
arep kare sape sira newaki iwak engko?” (Itu kamu tahu kalau kit aitu salah,
kenapa baru sadar sekarang, sudah telanjur, Juwita. Ya sudah, kamu nanti kalau
pergi cari ikan tidak sama saya, mau sama siapa nanti?) balas Oman sambil
memakai pakaiannya lagi, kemudian mendayung.
Sesampainya di pinggir laut, Juwita
tak mengambil bagian sebagaimana biasanya. Ia pulang dengan tangan kosong, dan
pagi itu ia juga pulang lebih cepat. Air mata mulai mengalir, memikirkan bagaimana
nasibnya nanti kalau tak lagi berlayar mencari ikan dengan Oman, tak mungkin ia
ikut dengan nelayan yang lain, siapa pula yang ingin menggunakan tenaga perempuan
dibawah umur, mereka akan lebih memilih untuk menjadikannya isteri di rumah,
baik sebenar-benarnya isteri atau bahkan hanya pemuas napsu belaka. Ia bahkan
tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan alasan mengapa ia tak lagi berlayar
dan mencari ikan dengan Oman. Ia takut Ibunya akan marah besar karena ia tak
pandai mencari uang. Namun, hati dan logikanya terus berseterus ganas, ia tahu
apa yang dilakukan di tengah laut dengan Oman selama ini salah, namun jika
tidak, bagaimana ia mendapatkan uang untuk bertahan hidup.
Ibunya tertidur lelap diatas dipan beralaskan kasur palembang yang kian hari kian menitip. Juwita tak mungkin tidur dengan kepalanya yang penuh akan kembimbangan. Hingga Ibunya bangun di pagi buta, belum sempat menanyakan hasil tangkapan ikan tadi malam, Juwita meminta sesuatu pada Ibunya.
“Mak,
kawinaken kite, kare sape bae sing sanggup ngidupi kite roroan. Kita ore lunge
kare Mang Oman maning,” (Bu, nikahkan saya
dengan siapapun yang mampu menghidupi kita berdua. Saya udah tidak pergi
berlayar lagi dengan Mang Oman) Juwita takt ahu bagaimana caranya menahan
tangis, “Anu, Mang Oman uwis ane pengganti kite sing baturi, lanang,”
(Mang Oman sudah dapat teman lelaki untuk menemaninya berlayar) tutur Juwita lagi.
Iroh hanya bisa memandangi anaknya, tak ada kecurigaan sama sekali pada Juwita, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke Balai, menemui Abah Ara’af untuk meminta saran, barang kali Sang Kyai berbaik hati akan mengangkat Juwita sebagai anak asuh. Namun, yang terjadi tak sesuai yang diharapkan.
“Roh, Juwita kare kite bae ya. Engko, sire roroan, tinggal ning umah kite, tapine aje wewarah sape-sape,” (Roh, Juwita sama saya aja ya. Nanti kalian berdua tinggal di Rumah saya, tapi jangan bilang siapa-siapa).
“Maksude primen, Bah?” (Maksudnya gimana, Bah?) tanya Juwita.
“Sira
kawin karo kite bae, Juwita,” (Kamu nikah sama saya aja, Juwita).
Tak ada perlawanan atau pertanyaan
atas pernyataan yang disampaikan oleh Abah Ara’af. Walau, mereka tahu bahwa
akan melangsungkan pernikahan secara diam-diam dan tahu pernikahan tanpa wali tidaklah
sah. Betul, memang betul mereka berdua tinggal di rumah milih Sang Kyai, namun
bukan Rumah yang mereka tahu, rumah lain di dekat pasar, tak jauh dari rumah yang
mereka tinggali sebelumnya. Pekerjaan di rumah kini meringan, sebab kini Juwita
yang berjualan kue-kue di Pasar, selain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,
hal tersebut merupakan cara untuk melogikan mereka dapat hidup yang layak dari berjualan,
bukan dari uang yang diberikan oleh Sang Kyai.
Suatu malam, Mak Nyai, istri pertama dari Abah Ara’af mendatangi rumah dimana Juwita tinggal, mengetuk sehingga Juwita terbangun. Menjamu Mak Nyai dengan baik adalah suatu kehormatan, namun tangis Mak Nyai yang membadai membuat Juwita semakin bingung.
“Kite
sebenere arep dongeng, kite kih sakit hati Abah kawin maning, kawin maning,”
(Saya sebetulnya mau cerita, saya sebetulnya sakit hati Kyai nikah lagi, nikah lagi),
pernyataan tersebut cukup mencengangkan. Sebab, yang ia ketahui, Sang Kyai
menikahinya untuk membantu dan melindungi
dirinya dan Ibunya. Perbincangan itu terus mengalir, air mata terus mengalir
seperti air terjun disebrang Sudira. Sampai titik dimana adzan subuh berkumandang
dan Iroh sebetulnya tidak ada di tempat tidur. Tak ingin menyita perhatian
masyarakat Sudira, akhirnya mereka memutuskan untuk cepat pergi dari rumah
Juwita, mencari Iroh sebelum Pasar Sudira semakin ramai oleh pengunjung.
Sepanjang jalan, mereka berdua hanya
termenung. Mak Nyai yang masih merasakan sakit atas perlakuan suaminya selama
ini, pun Juwita yang kini semakin takt ahu harus apa. Orang yang selama ini ia
kira adalah orang suci, termyata memiliki hobi menikahi gadis-gadis, walau
sudah tak perawan. Juga Ibunya yang kini tak tau dimana. Jalan tak memiliki
arah, hingga akhirnya mereka menemukan sebuah rumah, tertutup rawa-rawa lebat. Belum
pernah mereka melihatnya, sampai akhirnya mereka memasuki rumah itu.
Tak begitu megah, sederhana dengan
warung yang ada di beranda, warung minuman keras dan alat kontrasepsi tepatnya.
Semua yang ada di sana meliha Juwita dan Mak Nyai secara seksama dan dalam,
mana ada orang yang datang ke sini menggunakan pakaian rapih dan syar’i.
Neng, penjaga warung menghampiri
mereka berdua, meminta mereka duduk dan mulai bertanya mengapa bisa dua orang
alim sampai ke tempat jahanam seperti ini, setidaknya itu lah sebutan masyarakat
Sudira untuk tempat itu dan hanya segelintir orang yang mengetahui tempat ini.
Sesaat setelah meminum air yang disuguhkan, mereka ditawari istirahat di kamar
Neng dan setelah masuk, pemandangan yang mereka lihat adalah perempuan-perempuan
memakai pakaian setengah telanjang, para lelaki yang sedang minum-minum di meja
dan berjudi mungkin, atau Sang Kyai yang baru saja keluar dari salah satu bilik.
Kejadian itu memicu kericuhan, Mak
Nyai tentu marah besar. Tak ada lagi ajaran Tuhan yang diingat, hanya ada
umpatan dan makian kasar yang melayang dari mulut yang biasanya sedang
berdzikir itu. Sang Kyai mencoba melindungi diri dari Tindakan fisik yang
dilakukan Mak Nyai, namun tak berhasil, malah-malah mereka kembali masuk
kedalam bilik yang tadi. Juwita hanya diam, toh, tidak ada perasaan cinta atau
sayang yang tumbuh, ia setuju menikah hanya untuk menyambung hidup. Namun, ia
bukan lagi gadis lugu, ia merasakan apa yang dirasakan oleh Mak Nyai. Ia mengurungkan
niat untuk melerai Mak Nyai dan suaminya, setelah ia melihat Ibunya juga keluar
bersamaan dengan lelaki dari bilik yang lain.
“Gusti Nu Agung, sape maning sing
bise kite percaye amun Kyai, pemuke agama sekien lakone kien. Ampuni hamba
Gusti, emak kite gale serupe,” (Tuhan Yang Maha Besar, siapa lagi yang bisa
saya percaya kalau seorang Kyai pun perilakunya seperti ini. Ampuni hamba ya
Tuhan, bahkan Ibu saya pun sama) teriak Juwita, kemudian jatuh.
Kini, tidak ada lagi siapapun yang
dapat Juwita percaya. Sebab, orang yang katanya suci itupun ternyata
mengkhianati Tuhannya. Pun, dengan orang yang ia sayangi dan hargai sepenuh hati,
ia korbankan martabatnya hanya untuk tetap mencari ikan untuk dijual, demi kelangsungan
hidup berdua, mengkhianatinya.
Sampai detik ini, masyarakat Sudira tak ada yang mengetahui bagaimana sesungguhnya keadaan mereka. Juwita kini tinggal sendiri, Kembali ke rumah lama, dan mencoba bertahan dengan sisa uang yang ada. Lamunannya buyar saat ada ketukan pintu rumah.
“Kare
sire mangan. Kite weruh kejadiane, Wi. Lake sesape sing sire bise percaye ning
dunia ini, Wi. Sekabeh uwong kuh belangsak, tapine iku balik ke diri masing-masing,
bise ore nutupi elek sing di due,” (Ini untuk kamu makan. Saya tahu
kejadiannya, Wi. Tidak ada orang yang bisa kamu percaya di muka bumi ini, Wi. Semua
orang itu aslinya berengsek, tinggai gimana kita menutupi keburukan yang
dipunya) tutur Oman, setelah itu pergi, meninggalkan Juwita yang masing
mematung di pintu.
Komentar