Kesejahteraan dan Ancaman Pekerja Pada Era 5.0
Pekerja merupakan salah satu elemen penting dalam berjalannya roda industri. Seiring berkembangnya teknologi yang menggantikan banyaknya sektor manual dengan tenaga robot dan Artificial Intelligence (AI), menambah kekhawatiran buruh tentang posisinya sebagai pekerja.
Ratusan tahun dirayakan dengan cara hari libur nasional, hari buruh merupakan salah satu representasi menghargai para pekerja disetiap perusahaan. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua perusahaan atau industri meliburkan para pekerjanya pada hari buruh yang diperingati setiap tanggal 1 mei atau yang disebut may day? Hanya Tuhan dan para kapitalis yang mengetahui. Meskipun para pekerja tidak pergi ke kantor pada hari buruh, masih banyak dari mereka yang mendapatkan pekerjaan yang harus diselesaikan, selayaknya hari-hari biasa.
Kesejahteraan para pekerja juga dipertanyakan ketika pekerja mengerjakan dua atau lebih tanggungjawab tanpa dibayar. Kemudian, para buruh (pekerja lepas) yang tenaga atau jasanya dibayar murah dengan tanggungjawab atau pekerjaan yang tidak mudah. Kesejahteraan pekerja belum terpenuhi dengan layak, namun tenaganya mulai digantikan oleh mesin, robot dan kecerdasan buatan.
Ancaman para pekerja juga mulai hadir satu persatu seiring canggihnya teknologi. Meskipun kita sudah berdampinganan dengan teknologi sejak lama, namun perubahan teknologi yang signifikan terlihat pada tahun 2017, pergantian gerbang tol menjadi Gerbang Tol Otomatis (GTO). Dari satu sektor saja, ribuan orang telah kehilangan mata pencahariannya dan digantikan oleh mesin. Kemajuan ini memang memudahkan perusahaan dalam mengelola perusahaan dan menekan pengeluaran perusahaan dalam angka besar-besaran. Namun, apakah kemudian mesin akan terus berkembang hingga menggantikan peran manusia?
Kini, sudah dapat terlihat jelas bahwa profesi yang dikerjakan manusia digantikan oleh kecerdasan buatan. TV One, menjadi media pertama di Indonesia yang menggunakan Artificial Intelligence (AI) sebagai presenter (penyiar berita). Kecanggihan teknologi kini memang patut diberikan pujian, namun bukankah ini salah satu ancaman untuk para pekerja? Bahkan, pekerjaan rumah, seperti menyapu dan mengepel lantai pun sudah dapat dilakukan oleh robot.
Kini, ancaman pekerja bukan lagi saingan sesama pekerja. Yang ditakutkan para pekerja, bukan lagi habis kontrak kerja. Jika pekerjaan manusia terus digantikan oleh mesin, robot dan kecerdasan, bagaimana nasib para pekerja? Akan ada berapa ribu pekerja lagi yang mendapatkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)? Asisten Rumah Tangga (ART), karyawan pabrik dan ratusan profesi yang lainnya? Tak ada hal pasti untuk membatasi pertumbuhan teknologi, yang pasti, namun mau tidak mau, umat manusia, khususnya pekerja dipaksa untuk beradaptasi dengan kecanggihan teknologi dan menghadapi ancaman-ancaman yang tak hanya datang dari sesama manusia.
Komentar