Perempuan dan Segala Keruwetan Menjadi Perempuan
Perempuan. Seorang manusia yang masih kerap dilihat sebagai objek pemuas lelaki. Mungkin patriarki perlahan mati, namun prespektif perempuan sebagai objek tak ikut berhenti. Lantas, mengapa?
Patriarki mungkin semakin ditelah oleh perkembangan zaman. Kini, perempuan juga memiliki kekuasaan dan kesempatan yang setara dengan lelaki. Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa patriarki telah benar-benar mati dan terkubur.
Pada kehidupan sosial, masyarakat (masih) menganggap buruk apabila seorang perempuan pulang diatas jam 10 malam, bermain dengan banyak orang, menjelajah tempat yang jauh dan tak terjamah, atau bahkan mengisap selinting tembakau. Perilaku tersebut merupakan aib yang sulit ditutupi, tidak seperti kasus hamil diluar nikah. Berbeda dengan lelaki yang pulang dini hari, merokok, mabuk, menggunakan obat-obatan terlarang, tak pulang atau bahkan menghilangkan. Masyarakat (masih) menganggap wajar ketidaknormalan tersebut.
Umumnya, ketika anak perempuan (para orang tua) melakukan kesalahan, mereka (orang tua) akan mengunci anak mereka di kamar dan menyebutnya (anak) durhaka. Sedangkan ketika hal tersebut terjadi padah lelaki? Lebih banyak Ibu yang membela anak lelakinya, dan melindungi (anak lelakinya). Lantas, apakah ini tunas dari lelaki lah yang menguasai Dunia?
Ketika seorang perempuan beranjak dewasa, ribuah tuntutan menghampiri. Mulai dari perempuan harus bisa masak, perempuan harus bersih dan rapih, perempuan harus bisa merapihkan rumah (sapu, pel, cuci baju dan cuci piring), belum lagi tuntutan perempuan harus bisa mencari uang sendiri dan tidak bergantung dengan lelaki. Yang parahnya, tuntutan tersebut harus terjadi bersamaan, dan diperburuk ketika seorang perempuan sudah menikah. Stigma yang dibuat masyarakat begitu kejam menurut saya pribadi, karena ketika seorang perempuan menjadi isteri dari seorang lelaki, ia tidak akan disebut seorang isteri yang utuh apabila tidak memiliki anak. Padahal memiliki anak atau tidak, itu bukan hanya pasal seorang isteri, namun peran suami pun ada di dalamnya. Tak ada perempuan hamil tanpa lelaki (kecuali cerita Nabi Isa dalam Islam, dan Yesus dalam Kristen). Atau yang lebih parah? Perempuan yang melahirkan bayi secara tidak normal akan dianggap Ibu yang tidak utuh. Semua perempuan yang menjadi Ibu telah mengorbankan segalanya demi seorang anak kecil yang akan lahir dari rahimnya, yang belum tentu akan berbakti kepadanya kelak. Seorang perempuan yang memilih jadi Ibu mungkin telah rela kehilangan kecantikannya, keindahan tubuhnya, kemulusan kulitnya, bahkan ketenangan hidup yang hilang berkali lipat ketika mengandung.
Struggle sebagai perempuan diatas, akan berbeda ketika seorang perempuan memilih untuk mengutamakan pendidikan dan karir. Perempuan yang memutuskan untuk lanjut kuliah atau kerja, dihampiri mimpi-mimpi buruk ketidakamanan dan ketidaknyamanan di lingkungan kampus atau kantor.
Pelecehan seksual yang dialami mahasiswi biasa oleh mahasiswa yang memiliki otoritas di kampus telah banyak terjadi. Untuk sebagian mahasiswa, pelecehan seksual di lingkungan kampus adalah dongeng paling buruk yang pernah mereka dengar. Tak ayal, dan tidak dapat dipungkiri juga, pelecehan seksual juga kerap dilakukan oleh tenaga pendidik (dosen) kepada mahasiswanya, tentu dengan iming-iming nilai yang sudah pasti A. Diperburuk dengan banyak tersebarnya kabar atau bahkan bukti (foto atau video) ketika mahasiswa melakukan pelecehan atau buruknya pemerkosaan kepada mahasiswa lain.
Ketidaknyamanan perempuan yang aktif di organisasi dan mengharuskan pulang malam, selalu menghantui mereka ketika jalan menuju ke gerbang depan kampus. Sebab, tak semua kampus memberikan ruang yang aman untuk mahasiswanya. Sebab virus pelecehan seksual mengintai (perempuan) dari segala sisi.
Di tempat bekerja, (dulu) ketika saya Praktik Kerja Lapangan (PKL) dalam memenuhi salah satu syarat kelulusan sekolah, selama hampir setiap hari dalam 3 bulan masa magang, terus dihampiri oleh staff kantor. Tak hanya di tempat kerja, namun ia juga sering mengirim pesan WhatsApp, bahkan beberapa kali menelepon. Hal ini sangat amat menganggu. Sudah pernah lapor ke atasan, namun mereka malah menyuruh saya membiarkan perilaku tersebut. Lalu, bagaimana dengan perempuan-perempuan yang sedang bekerja di luar sana? Apakah mereka benar-benar aman dari tindakan pelecehan dan kekerasan seksual dari atasan atau rekan kerjanya?
Tak hanya dilingkungan kecil, kampus dan tempat bekerja. Bahkan, kejadian pelecehan seksual pun kerap terjadi di tempat umum seperti pasar, transportasi umum atau bahkan terjadi di kalangan para buruh.
Isu perempuan ini semakin parah, ketika segelintir perempuan juga menjatuhkan perempuan yang lainnya. Banyak sekali kasus dimana seorang isteri diselingkuhi oleh suaminya, lalu perempuan lain malah menyalahkan sang isteri. Ntah sebab karena fisik yang berkurang, sulit memiliki keturunan, atau bahkan tak handal dalam memasak. Kasus yang lebih umum adalah pelecehan seksual, ketika orang lain menyalahkan korban karena pakaiannya. Padahal, hal-hal tersebut bukanlah alasan yang dapat dibenarkan untuk merendahkan seorang perempuan. Hal-hal tersebut wajar terjadi, dan mungkin akan terjadi dan tidak dapat dirubah.
Kabar buruk lainnya, sebagian perempuan memvalidasi bahwa mereka (derajat) berada dibawah lelaki.
Komentar