Transpuan
Sampai saat ini, pemikiran lelaki adalah manusia perkasa tahan banting, atau sebaliknya? Perempuan adalah manusia yang amat lemah lembut? Masih melekat ketat di kepala masyarakat.
Lalu, kemudian bagaimana dengan mereka yang harus menyeimbangkan keduanya? Lelaki yang menangis ketika merasa sedih, atau perempuan yang harus tetap tegar ketika dihadapkan kehidupan? Seperti Shinta Ratri.
Shinta Ratri, seorang transpuan yang lahir seorang di Yogya, kota yang memiliki sesuatu khas. Salah satunya adalah pondok pesantren khusus waria yang didirikan beliau untuk membela hak semua manusia dalam beribadah kepada Tuhan-nya.
Pondok Pesantren Al-Fatah, menampung puluhan waria yang tetap sujud kepada Tuhan-nya itu secara rutin menggelar pengajian setiap hari senin dan kamis. Mengaji mungkin belum cukup, maka di pondok pesantren ini pun mengajarkan beberapa pelajaran agama, terutama Islam, seperti Fiqih. Tak seperti yang dipikirkan ketika seseorang memiliki niat baik, pondok pesantren Shinta Ratri pun pernah dituding tempat gelap, pusat penyebaran ajaran-ajaran sesat. Namun, hal tersebut tak mematikan keimanan Shinta untuk menyediakan tempat ibadah untuk orang-orang yang mendapat penolakan di masyarakat.
Atas kerja kerasnya itu, Shinta mendapatkan penghargaan atas jasanya dalam memperjuangkan hak asasi manusia oleh Front Line Defenders pada 2019. Sayangnya, Shinta telah tutup usia pada awal februari lalu.
Al-fatihah untuk beliau. Panjang umur perjuangan.
Komentar